Ruangwarta.id, Jakarta — Kasus dugaan pembegalan terhadap model wanita bernama Ansy Jan De Vries yang sempat viral di media sosial akhirnya menemukan titik terang. Setelah beberapa hari memicu kepanikan publik dan menjadi perhatian luas warganet, pihak kepolisian memastikan bahwa kabar pembegalan brutal yang disebut menimpa model tersebut di kawasan Kebon Jeruk, Jakarta Barat, tidak benar alias hoaks.
Sebelumnya, media sosial diramaikan dengan unggahan yang menyebut Ansy Jan De Vries menjadi korban pembegalan dan pembacokan saat menumpangi ojek online di kawasan samping Tol Kebon Jeruk, Jakarta Barat. Dalam narasi yang beredar, korban disebut mengalami luka serius di bagian kepala akibat sabetan senjata tajam dan sempat menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit Sumber Waras.
Informasi tersebut dengan cepat menyebar di berbagai platform media sosial dan memicu kekhawatiran publik terkait maraknya aksi kriminal jalanan di wilayah Jakarta Barat. Beberapa unggahan bahkan menyebut korban berada dalam kondisi kritis akibat kehilangan banyak darah.
Namun setelah viral dan menjadi perhatian masyarakat, Polda Metro Jaya langsung melakukan penelusuran terhadap informasi tersebut. Aparat dari Polsek Kebon Jeruk dan Satreskrim Polres Metro Jakarta Barat melakukan pengecekan lokasi yang disebut sebagai tempat kejadian perkara sekaligus mendatangi Rumah Sakit Sumber Waras yang dikabarkan menjadi lokasi perawatan korban.
Hasil penelusuran awal justru tidak menemukan data pasien atas nama Ansy Jan De Vries di rumah sakit tersebut. Legal RS Sumber Waras juga membantah pernah merawat pasien dengan identitas tersebut, baik sebagai pasien rawat inap maupun rawat jalan dalam kurun waktu satu bulan terakhir.
Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Budi Hermanto, sebelumnya menyampaikan bahwa pihak kepolisian masih melakukan verifikasi mendalam dan belum dapat memastikan kebenaran informasi yang beredar di media sosial.
Perkembangan terbaru kemudian mengungkap fakta mengejutkan. Polisi akhirnya berhasil menemui langsung Ansy Jan De Vries dan memastikan bahwa perempuan tersebut bukan korban begal maupun tindak kriminal lainnya.
Dalam keterangannya kepada media, Kombes Pol Budi Hermanto menyebut bahwa cerita pembegalan tersebut dibuat sendiri oleh Ansy dan tidak pernah benar-benar terjadi. Polisi juga melibatkan tim psikologi, Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA), serta tenaga kesehatan dalam proses pendalaman terhadap kasus viral tersebut.
“Kami tegaskan bahwa yang bersangkutan bukan korban begal ataupun tindak kriminal lainnya,” ujar Budi Hermanto.
Polisi mengungkap bahwa motif munculnya cerita tersebut diduga karena keisengan dan keinginan untuk mengikuti fenomena kasus begal yang belakangan ramai diperbincangkan di media sosial.
Kasus ini pun memunculkan sorotan terkait maraknya penyebaran informasi yang belum terverifikasi di media sosial. Banyak pihak menilai narasi viral semacam itu berpotensi menimbulkan keresahan publik dan memperkeruh situasi keamanan di tengah masyarakat.
Polda Metro Jaya mengimbau masyarakat agar lebih bijak dalam menggunakan media sosial dan tidak mudah menyebarkan informasi yang belum dipastikan kebenarannya.
Kasus viral Ansy Jan De Vries menjadi pengingat bahwa verifikasi informasi sangat penting dilakukan sebelum sebuah kabar disebarluaskan ke publik, terutama terkait isu kriminalitas yang dapat memicu kepanikan masyarakat.
Redaksi Ruangwarta.id


















