Ruangwarta.id, Kendari — Kasus dugaan pelecehan seksual terhadap anak di bawah umur yang diduga melibatkan seorang oknum anggota TNI AD berinisial Sertu MB kini menjadi perhatian serius masyarakat di Sulawesi Tenggara. Selain menimbulkan sorotan publik, peristiwa tersebut juga disebut berdampak besar terhadap kondisi psikologis dan kesehatan korban yang hingga kini masih mengalami trauma mendalam.
Berdasarkan keterangan pihak keluarga, kondisi korban terus mengalami penurunan sejak dugaan peristiwa tersebut terjadi. Korban disebut mengalami tekanan mental yang cukup berat hingga memengaruhi kondisi fisiknya dan harus menjalani penanganan medis di Rumah Sakit Bhayangkara Kendari.
Keluarga menyebut korban sempat mendapatkan perawatan intensif akibat kondisi psikologis yang memburuk. Selama menjalani perawatan, korban disebut membutuhkan pendampingan khusus karena mengalami trauma berat.
“Kondisinya sangat terpukul sejak kejadian itu. Kami sebagai keluarga tidak menyangka dampaknya sampai membuat korban sakit dan harus dirawat,” ujar salah satu anggota keluarga korban.
Setelah beberapa waktu menjalani perawatan medis, korban akhirnya dipulangkan dan kini tinggal bersama neneknya di kawasan Puuwatu, Kota Kendari. Langkah tersebut dilakukan agar korban dapat menjalani proses pemulihan psikologis dalam suasana keluarga yang lebih tenang dan suportif.
Pihak keluarga berharap kondisi korban dapat berangsur membaik, meski hingga saat ini korban disebut masih mengalami tekanan mental akibat peristiwa yang dialaminya.
Selain berharap pemulihan kondisi kesehatan korban, keluarga juga meminta agar proses penanganan perkara dilakukan secara serius, profesional, dan transparan oleh pihak berwenang.
Mereka menilai kasus dugaan pelecehan seksual terhadap anak di bawah umur merupakan persoalan serius yang harus mendapat perhatian khusus, terlebih apabila melibatkan aparat atau pihak yang memiliki posisi tertentu di tengah masyarakat.
“Kami berharap kasus ini benar-benar diproses dengan adil dan transparan. Yang paling penting sekarang adalah kondisi korban dan keadilan untuk korban,” kata pihak keluarga.
Kasus tersebut kini terus menjadi perhatian masyarakat dan memunculkan berbagai desakan agar penanganan perkara dilakukan tanpa pandang bulu. Sejumlah pihak menilai perlindungan terhadap korban harus menjadi prioritas utama, termasuk pendampingan psikologis dan jaminan keamanan selama proses hukum berjalan.
Dalam berbagai kasus kekerasan seksual terhadap anak, para pemerhati perlindungan perempuan dan anak menilai dampak psikologis terhadap korban kerap berlangsung dalam jangka panjang apabila tidak ditangani secara serius.
Karena itu, dukungan keluarga, pendampingan psikologis, serta proses hukum yang memberikan rasa aman dinilai menjadi bagian penting dalam pemulihan korban.
Kasus dugaan pelecehan seksual yang menyeret nama oknum aparat tersebut juga kembali memunculkan perhatian publik terkait pentingnya penegakan hukum yang transparan dan akuntabel dalam perkara kekerasan seksual, khususnya terhadap anak di bawah umur.
Masyarakat berharap aparat penegak hukum dan institusi terkait dapat memastikan seluruh proses berjalan sesuai ketentuan hukum yang berlaku serta tetap mengedepankan perlindungan terhadap korban dan keluarga.
Hingga berita ini diterbitkan, belum terdapat keterangan resmi lebih lanjut terkait perkembangan proses hukum kasus tersebut dari pihak berwenang.
Wartawan: Haikal Lenohingide


















