banner 728x250 banner 728x250 banner 728x250

81 TAHUN INDONESIA MERDEKA: SAATNYA INDONESIA TIMUR BANGKIT

banner 120x600
banner 468x60

Oleh: Hedianto Ismail

Delapan puluh satu tahun Indonesia merdeka bukan sekadar momentum untuk mengibarkan bendera dan menggelar upacara. Kemerdekaan harus menjadi kesempatan untuk bertanya: sudahkah keadilan pembangunan benar-benar dirasakan seluruh rakyat Indonesia?

banner 325x300

Kita patut bersyukur. Ekonomi Indonesia pada 2025 tumbuh 5,11 persen, dengan nilai PDB sekitar Rp23.821 triliun. Namun, Pulau Jawa masih menjadi pusat gravitasi ekonomi nasional dengan kontribusi 56,93 persen terhadap perekonomian Indonesia.

Angka tersebut menunjukkan bahwa pekerjaan rumah pemerataan masih besar.

Persoalannya bukan Jawa versus Indonesia Timur. Masyarakat Jawa adalah saudara sebangsa. Yang harus kita kritik adalah ketimpangan struktural yang membuat pusat pertumbuhan ekonomi terlalu terkonsentrasi di satu kawasan.

Indonesia Timur bukan halaman belakang Republik.

Sulawesi, Maluku, Nusa Tenggara dan Papua memiliki kekayaan sumber daya alam, laut, energi, mineral, pertanian, serta kebudayaan yang sangat besar. Namun pertanyaan pentingnya adalah: seberapa besar kekayaan itu kembali menjadi kesejahteraan masyarakat di daerah penghasil?

Sulawesi Tenggara memberikan gambaran yang nyata. Ekonomi daerah ini tumbuh 5,79 persen pada 2025, tetapi pada September 2025 masih terdapat sekitar 295 ribu penduduk miskin, atau 10,14 persen dari populasi.

Ini adalah paradoks yang harus kita renungkan.

Ekonomi tumbuh, investasi masuk, industri berkembang. Tetapi pertumbuhan ekonomi tidak boleh hanya diukur dari angka PDRB. Ukuran keberhasilannya adalah apakah masyarakat memperoleh pendidikan yang baik, layanan kesehatan yang layak, pekerjaan yang bermartabat, serta kesempatan menjadi pelaku ekonomi di tanahnya sendiri.

Karena itu, ketika hari ini muncul kembali wacana “kebangkitan Negara Indonesia Timur”, kita harus membacanya secara bijaksana.

Secara sejarah, Negara Indonesia Timur pernah ada dalam perjalanan politik Indonesia pada akhir 1940-an. Tetapi sejarah tersebut jangan digunakan untuk membangun permusuhan atau memecah bangsa.

Bagi saya, kebangkitan Indonesia Timur tidak harus berarti mendirikan negara baru.

Kebangkitan Indonesia Timur dapat dimaknai sebagai kebangkitan kesadaran.

Kesadaran bahwa masyarakat Timur harus menjadi subjek pembangunan, bukan sekadar pemasok bahan mentah.

Kesadaran bahwa kekayaan daerah harus menciptakan nilai tambah bagi masyarakat lokal.

Kesadaran bahwa anak-anak Indonesia Timur harus memiliki kesempatan yang sama untuk menjadi pengusaha, ilmuwan, profesional, pemimpin politik dan pemimpin nasional.

Dan kesadaran bahwa suara masyarakat Timur harus memiliki tempat yang setara dalam menentukan arah Republik.

Kita membutuhkan Indonesia yang lebih merata.

Pemerintah harus memperkuat pendidikan dan kesehatan di Indonesia Timur, menurunkan biaya logistik, memperkuat UMKM dan pengusaha lokal, meningkatkan kapasitas tenaga kerja daerah, serta memastikan hilirisasi sumber daya alam memberikan manfaat nyata bagi masyarakat setempat.

Daerah tidak boleh hanya menjadi tempat mengambil sumber daya.

Daerah harus menjadi tempat tumbuhnya nilai tambah dan kepemilikan ekonomi.

Saya percaya, persatuan Indonesia tidak cukup hanya berarti satu wilayah dari Sabang sampai Merauke. Persatuan juga berarti kesetaraan kesempatan.

Kita tidak membutuhkan konflik antara Timur dan Barat.

Kita membutuhkan keseimbangan antara pusat dan daerah.

Kita tidak membutuhkan Indonesia yang terpecah.

Kita membutuhkan Indonesia yang lebih adil.

Sebagai Ponggawa Aha Banderano Tolaki, saya berpandangan bahwa masyarakat adat dan masyarakat Indonesia Timur harus berani mengambil peran lebih besar dalam menentukan masa depan bangsa.

Kita harus menjaga adat, tanah, laut dan sumber daya alam. Tetapi kita juga harus berani menyuarakan keadilan.

Sebab NKRI akan semakin kuat bukan ketika semua daerah dibuat sama, melainkan ketika setiap daerah memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang berdasarkan kekuatan dan karakter masing-masing.

81 tahun Indonesia merdeka.

Mari kita jadikan momentum ini bukan hanya untuk merayakan kemerdekaan, tetapi untuk memperjuangkan pemerataan.

Karena Indonesia yang besar adalah Indonesia yang tidak membiarkan Timur tertinggal.

Indonesia yang kuat adalah Indonesia yang adil bagi seluruh rakyatnya.

Hedianto Ismail
Ponggawa Aha Banderano Tolaki i Langgai Tonggi Sura Tadu Bilangari

banner 728x250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *