Ruangwarta.id, Jakarta/Konawe Utara — Pengusaha nasional Samsudin Andi Arsyad atau yang lebih dikenal sebagai Haji Isam kembali memperluas pengaruh bisnisnya di sektor pertambangan nikel. Melalui emiten portofolionya, PT Abadi Nusantara Hijau Investama Tbk (PACK), kelompok usaha Haji Isam menggelontorkan dana jumbo senilai Rp1,34 triliun untuk mengakuisisi perusahaan tambang nikel di Kabupaten Konawe Utara (Konut), Sulawesi Tenggara.
Langkah ekspansi tersebut mempertegas posisi Konawe Utara sebagai salah satu episentrum baru perebutan aset strategis nikel nasional di tengah meningkatnya kebutuhan global terhadap bahan baku kendaraan listrik dan industri baterai.
Berdasarkan keterbukaan informasi perusahaan, dana sebesar Rp1,34 triliun disalurkan PACK kepada dua anak usahanya, yakni PT Adhi Prakarsa Raya (APR) dan PT Sumber Cahaya Raya (SCR), melalui skema pinjaman internal yang ditandatangani pada 22 Mei 2026.
APR menerima pendanaan sekitar Rp749,59 miliar, sementara SCR memperoleh Rp591,78 miliar. Dana tersebut digunakan untuk mengakuisisi saham dua perusahaan tambang nikel yang beroperasi di Konawe Utara, yaitu PT Konutara Sejati dan PT Karyatama Konawe Utara.
Melalui transaksi tersebut, kepemilikan tidak langsung kelompok usaha Haji Isam di PT Karyatama Konawe Utara meningkat menjadi 49,13 persen, sedangkan kepemilikan di PT Konutara Sejati naik menjadi 44,63 persen. Posisi tersebut menjadikan grup usaha tersebut sebagai salah satu pemegang saham terbesar di kedua perusahaan tambang tersebut.
Konawe Utara sendiri selama beberapa tahun terakhir menjadi salah satu wilayah paling strategis dalam industri nikel Indonesia. Kabupaten ini dikenal memiliki cadangan nikel laterit yang besar dan menjadi bagian penting dari rantai pasok industri hilirisasi nasional.
PT Konutara Sejati, salah satu perusahaan yang menjadi target akuisisi, diketahui mengelola konsesi tambang seluas sekitar 1.923 hektare dengan status Izin Usaha Pertambangan Operasi Produksi (IUP OP) sejak 2009. Wilayah tersebut berada di kawasan Langgikima yang dikenal sebagai salah satu sentra nikel utama di Sulawesi Tenggara.
Langkah ekspansi Haji Isam ke sektor nikel dipandang sebagai bagian dari strategi jangka panjang untuk memperkuat posisi bisnisnya dalam rantai industri energi masa depan, terutama setelah meningkatnya kebutuhan global terhadap bahan baku baterai kendaraan listrik.
Dalam beberapa tahun terakhir, kelompok usaha yang terafiliasi dengan Haji Isam juga mulai memperluas investasi ke sektor hilirisasi mineral dan industri pendukung baterai. Salah satunya melalui keterlibatan dalam proyek industri prekursor baterai yang terhubung dengan rantai pasok kendaraan listrik nasional.
Pengamat industri menilai akuisisi di Konawe Utara bukan sekadar transaksi bisnis biasa, melainkan bagian dari kompetisi besar penguasaan sumber daya nikel Indonesia yang kini menjadi komoditas strategis dunia.
Di tengah meningkatnya investasi nasional dan asing di sektor nikel Sulawesi Tenggara, masuknya kelompok usaha Haji Isam diperkirakan akan memperkuat persaingan penguasaan konsesi tambang sekaligus memperbesar pengaruh pemain domestik dalam industri yang selama ini menjadi magnet investasi global.
Meski demikian, ekspansi besar-besaran sektor tambang di Konawe Utara juga terus memunculkan perhatian terkait aspek lingkungan, konflik agraria, serta dampak sosial terhadap masyarakat di sekitar wilayah operasional pertambangan.
Dengan nilai transaksi mencapai lebih dari Rp1 triliun, akuisisi tersebut menjadi salah satu langkah bisnis terbesar yang terjadi di sektor pertambangan nikel Sulawesi Tenggara sepanjang 2026 dan semakin menegaskan posisi Konawe Utara sebagai salah satu medan utama perebutan sumber daya strategis Indonesia.


















