banner 728x250 banner 728x250 banner 728x250

Banderano Tolaki, Pelopor Organisasi Adat Modern Penjaga Marwah Suku Tolaki

banner 120x600
banner 468x60

Ruangwarta.id — Dalam perjalanan gerakan masyarakat adat di Sulawesi Tenggara, nama Bawaa Pobende Sarano Tolaki (Banderano Tolaki) memiliki tempat tersendiri. Organisasi yang dideklarasikan pada 11 Juli 2014 ini dikenal sebagai salah satu pelopor organisasi adat modern masyarakat Tolaki yang memadukan pelestarian budaya, penguatan identitas adat, advokasi sosial, serta kaderisasi kepemimpinan dalam sebuah sistem organisasi yang terstruktur.

Banderano Tolaki lahir dari gagasan seorang pemuda Tolaki, Hedianto Ismail, yang melihat perlunya sebuah wadah untuk menjaga marwah, identitas, dan warisan budaya masyarakat Tolaki di tengah perubahan sosial yang terus berkembang. Berangkat dari keprihatinan terhadap berbagai fenomena yang dinilai dapat mengikis nilai-nilai adat dan kehormatan masyarakat Tolaki, muncul kesadaran bahwa masyarakat adat membutuhkan organisasi yang tidak hanya berfungsi sebagai pelestari budaya, tetapi juga mampu menjadi benteng pelindung adat, pemersatu masyarakat, serta pengawal nilai-nilai hukum adat.

banner 325x300

Terinspirasi dari keberadaan Pecalang di Bali sebagai unsur pengamanan adat, Hedianto Ismail menggagas sebuah organisasi yang memiliki fungsi lebih luas. Organisasi tersebut dirancang sebagai wadah pelestarian budaya, penguatan identitas masyarakat adat, pengawalan hak-hak masyarakat adat, hingga advokasi terhadap berbagai persoalan sosial yang menyangkut kepentingan masyarakat Tolaki.

Gagasan tersebut mendapat dukungan dari sejumlah tokoh adat, akademisi, dan pemuda Tolaki. Dukungan itu kemudian bermuara pada deklarasi resmi Bawaa Pobende Sarano Tolaki (Banderano Tolaki) di Warkop Nderlin, kawasan MTQ Kendari, yang menandai lahirnya sebuah gerakan adat modern masyarakat Tolaki.

Filosofi Nama Banderano Tolaki

Nama Bawaa Pobende Sarano Tolaki secara harfiah berarti “Laskar Pelindung Adat Tolaki.” Nama tersebut bukan sekadar identitas organisasi, melainkan mencerminkan filosofi perjuangan yang menjadi landasan gerakan Banderano Tolaki sejak pertama kali berdiri.

Kata Bawaa bermakna pasukan atau laskar yang melambangkan semangat persatuan, keberanian, kesiapsiagaan, dan pengabdian kepada masyarakat adat. Pobende berarti melindungi, menjaga, dan mengawal, sedangkan Sarano Tolaki merujuk pada adat, budaya, nilai, norma, serta seluruh warisan peradaban masyarakat Tolaki yang diwariskan secara turun-temurun oleh para leluhur.

Jika dirangkai secara utuh, Bawaa Pobende Sarano Tolaki mengandung makna sebuah laskar yang mengabdikan diri untuk menjaga, melindungi, dan mengawal adat, budaya, kehormatan, serta kepentingan masyarakat Tolaki.

Dari filosofi tersebut lahir identitas Banderano Tolaki, yang dalam pemaknaan internal organisasi diposisikan sebagai simbol persatuan, kehormatan, keberanian, loyalitas, dan pengabdian kepada masyarakat adat.

Terinspirasi Semangat Pasoekan Djihad Konawe

Dalam membangun karakter organisasinya, Banderano Tolaki menerapkan pola kaderisasi yang menekankan disiplin, loyalitas, kepemimpinan, solidaritas, dan pengabdian kepada masyarakat. Semangat tersebut terinspirasi dari nilai-nilai perjuangan Pasoekan Djihad Konawe (PDK), organisasi perjuangan masyarakat Konawe yang memiliki peran penting dalam sejarah persatuan dan pertahanan masyarakat Tolaki.

Meski lahir dalam konteks zaman yang berbeda, Banderano Tolaki berupaya mengadaptasi semangat perjuangan, kedisiplinan, keberanian, dan loyalitas yang diwariskan oleh para tokoh Tolaki terdahulu. Karakter inilah yang kemudian membentuk identitas organisasi dan menjadi fondasi dalam proses kaderisasi hingga saat ini.

Dari Pelestarian Adat Hingga Pengabdian Sosial

Sejak berdiri, Banderano Tolaki tidak hanya aktif dalam pelestarian budaya dan penguatan identitas masyarakat adat, tetapi juga terlibat dalam berbagai persoalan sosial yang dihadapi masyarakat. Organisasi ini kerap mengawal isu perlindungan tanah ulayat, konflik agraria, hak-hak masyarakat adat, hingga persoalan sosial kemasyarakatan lainnya.

Di sisi lain, Banderano Tolaki juga dikenal melalui berbagai kegiatan kemanusiaan yang menyentuh langsung kehidupan masyarakat. Dalam sejumlah peristiwa bencana alam maupun musibah sosial yang terjadi di Sulawesi Tenggara, kader-kader Banderano Tolaki turut hadir memberikan bantuan kepada warga terdampak.

Mulai dari penyaluran bantuan bagi korban banjir, kebakaran, hingga berbagai aksi sosial lainnya, menjadi bagian dari komitmen organisasi dalam mengimplementasikan nilai pengabdian kepada masyarakat. Bagi Banderano Tolaki, menjaga marwah adat tidak hanya diwujudkan melalui pelestarian budaya dan pengawalan hak-hak masyarakat adat, tetapi juga melalui aksi nyata membantu masyarakat yang membutuhkan.

Semangat gotong royong, solidaritas, dan kepedulian sosial yang diwariskan oleh leluhur Tolaki menjadi prinsip yang terus dijaga dan ditanamkan kepada setiap kader organisasi.

Menjadi Referensi Organisasi Adat Modern

Memasuki usia ke-12 tahun pada 2026, Banderano Tolaki telah berkembang menjadi salah satu organisasi adat yang memiliki jaringan kader di berbagai wilayah Sulawesi Tenggara. Dalam perjalanannya, organisasi ini menjadi salah satu referensi bagi lahirnya berbagai organisasi berbasis adat yang mulai bermunculan sejak 2017 dan tahun-tahun berikutnya.

Banyak kalangan menilai pola kaderisasi, struktur organisasi, serta pendekatan sosial yang diterapkan Banderano Tolaki menjadi salah satu model organisasi adat modern yang banyak diadopsi oleh organisasi-organisasi baru.

Karena itu, tidak berlebihan jika Banderano Tolaki kemudian dikenal sebagai salah satu pelopor organisasi adat modern masyarakat Tolaki di Sulawesi Tenggara. Organisasi ini berhasil memadukan nilai-nilai adat, semangat perjuangan leluhur, dan sistem organisasi yang mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa meninggalkan akar budaya yang menjadi identitas masyarakat Tolaki.

Pengakuan Adat atas Pengabdian

Perjalanan panjang Banderano Tolaki dalam mengawal kepentingan masyarakat adat turut mendapat pengakuan dari berbagai komunitas adat. Sebagai pendiri sekaligus Ponggawa Aha Banderano Tolaki, Hedianto Ismail menerima gelar adat dari Komunitas Adat Wonua Ndinudu Meluhu.

Gelar yang diberikan adalah “Langgai Tonggi Sura, Tadu Bilangari”, yang secara filosofis bermakna seorang panglima yang mampu melihat, membaca, dan memahami situasi dengan bijaksana sebelum mengambil keputusan.

Pemberian gelar tersebut merupakan bentuk penghormatan atas dedikasi dan pengabdiannya dalam menjaga adat, budaya, serta kepentingan masyarakat Tolaki. Lebih dari itu, penghargaan tersebut juga menjadi pengakuan terhadap peran Banderano Tolaki dalam memperkuat solidaritas sosial, menjaga eksistensi masyarakat adat, serta menghidupkan nilai-nilai kearifan lokal di tengah perkembangan zaman.

Bagi para pendiri dan kadernya, Banderano Tolaki bukan sekadar organisasi kemasyarakatan. Organisasi ini merupakan simbol perjuangan untuk menjaga kehormatan, identitas budaya, tanah leluhur, serta hak-hak masyarakat adat Tolaki agar tetap hidup dan diwariskan kepada generasi mendatang.

Di tengah dinamika sosial, perubahan budaya, dan perkembangan pembangunan yang terus berlangsung, Banderano Tolaki masih memegang teguh tujuan yang sama sejak pertama kali dideklarasikan: menjaga marwah Suku Tolaki dan memastikan warisan leluhur tetap menjadi bagian dari masa depan.

Penulis: Redaksi Ruangwarta.id

banner 728x250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *