banner 728x250 banner 728x250

Investasi Smelter Dongkrak PAD, Pemprov Sultra Klaim Serap Ribuan Tenaga Kerja Lokal

banner 120x600
banner 468x60

KENDARI, ruangwarta.id – Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) menyatakan bahwa investasi industri pengolahan dan pemurnian nikel (smelter) di wilayahnya memberikan dampak signifikan terhadap peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) serta penyerapan ribuan tenaga kerja lokal. Masuknya investasi besar di sektor hilirisasi dinilai menjadi penggerak utama transformasi ekonomi daerah dalam beberapa tahun terakhir.

Gubernur Sulawesi Tenggara menyampaikan hal tersebut dalam forum evaluasi realisasi investasi daerah dan arah kebijakan pembangunan 2026 yang digelar di Kendari, baru-baru ini. Menurutnya, kebijakan hilirisasi mineral yang diterapkan pemerintah pusat telah membuka peluang pertumbuhan ekonomi yang lebih luas bagi daerah penghasil nikel seperti Sultra.

“Hilirisasi memberi nilai tambah nyata. Investasi smelter bukan hanya meningkatkan aktivitas industri, tetapi juga berdampak langsung pada kenaikan PAD dan membuka lapangan kerja bagi masyarakat lokal,” ujar Gubernur dalam sambutannya.

Sulawesi Tenggara merupakan salah satu provinsi dengan cadangan nikel terbesar di Indonesia. Kebijakan larangan ekspor bijih mentah dan kewajiban pengolahan di dalam negeri mendorong investor membangun fasilitas pemurnian di wilayah ini. Secara nasional, nilai investasi pembangunan smelter nikel telah mencapai sekitar Rp227,6 triliun untuk puluhan proyek yang tersebar di berbagai daerah, termasuk Sulawesi Tenggara.

Di tingkat regional, salah satu proyek strategis berada di Pomalaa, Kabupaten Kolaka. PT Vale Indonesia Tbk tengah mengembangkan proyek smelter High Pressure Acid Leach (HPAL) dengan nilai investasi sekitar US$1,1 hingga US$1,2 miliar atau setara lebih dari Rp19 triliun. Proyek tersebut ditargetkan rampung pada 2026 dan menjadi bagian dari penguatan rantai pasok industri baterai kendaraan listrik.

Masuknya investasi skala besar tersebut dinilai berdampak langsung terhadap perputaran ekonomi daerah. Pemprov Sultra menyebut kontribusi terhadap PAD bersumber dari berbagai instrumen fiskal seperti pajak daerah, retribusi, hingga aktivitas ekonomi turunan di sekitar kawasan industri.

Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Sultra menjelaskan bahwa tren investasi sektor pengolahan nikel terus menunjukkan pertumbuhan dalam beberapa tahun terakhir.

“Efek berganda dari investasi smelter sangat terasa. Selain kontribusi fiskal, sektor jasa, perdagangan, dan UMKM di sekitar kawasan industri ikut tumbuh,” jelasnya dalam pemaparan capaian investasi daerah awal 2026.

Salah satu dampak paling nyata adalah penyerapan tenaga kerja. Industri smelter nikel disebut menjadi sektor strategis dalam menciptakan lapangan kerja, terutama di wilayah penghasil nikel. Pada tahap konstruksi, proyek smelter mampu menyerap ribuan pekerja. Sementara pada fase operasional, kebutuhan tenaga teknis, operator, hingga tenaga pendukung terus meningkat.

Secara nasional, proyek smelter nikel disebut telah menyerap puluhan ribu tenaga kerja. Di Sulawesi Tenggara sendiri, ribuan tenaga kerja lokal terlibat dalam berbagai proyek industri pengolahan yang tengah berjalan.

Gubernur Sultra menegaskan bahwa pemerintah daerah mendorong perusahaan untuk memprioritaskan tenaga kerja lokal dalam proses rekrutmen.

“Kami ingin masyarakat Sultra menjadi bagian utama dari pertumbuhan industri ini. Pemerintah juga terus memperkuat pelatihan vokasi dan peningkatan kompetensi agar tenaga kerja lokal mampu mengisi posisi strategis,” tegasnya.

Selain dampak ekonomi, aktivitas industri di kawasan smelter juga memicu pertumbuhan sektor penunjang. Permintaan terhadap hunian sementara, rumah makan, jasa transportasi, serta layanan logistik meningkat signifikan. Kondisi ini menciptakan peluang usaha baru bagi masyarakat sekitar.

Namun demikian, pemerintah daerah menegaskan pentingnya pengelolaan industri secara berkelanjutan. Aspek lingkungan, keselamatan kerja, dan kepatuhan terhadap regulasi menjadi perhatian dalam setiap tahapan investasi.

“Kita ingin investasi berkembang dan memberi manfaat maksimal, tetapi tetap memperhatikan kelestarian lingkungan dan standar keselamatan kerja,” tambah Gubernur.

Sejumlah kajian akademik juga menyebut pembangunan smelter di Sulawesi Tenggara berpotensi meningkatkan output dan nilai tambah ekonomi secara signifikan dalam jangka panjang. Transformasi dari ekspor bahan mentah ke produk olahan dinilai memperkuat struktur ekonomi daerah dan mengurangi ketergantungan pada komoditas mentah.

Ke depan, Pemprov Sultra berharap investasi smelter dapat terintegrasi dengan pengembangan industri hilir seperti manufaktur baterai dan produk logam bernilai tinggi. Dengan demikian, kontribusi terhadap PAD serta penciptaan lapangan kerja diproyeksikan terus meningkat.

Dengan dukungan kebijakan hilirisasi nasional dan komitmen pemerintah daerah, Sulawesi Tenggara diproyeksikan berkembang sebagai salah satu pusat industri nikel nasional yang tidak hanya mendorong pertumbuhan ekonomi, tetapi juga memperluas kesempatan kerja dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal secara berkelanjutan.

Redaksi Ruangwarta.id

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *