banner 728x250 banner 728x250

Dunia di Ambang ‘Polycrisis’: Saat Semua Masalah Meledak Bersamaan

banner 120x600
banner 468x60

JAKARTA, Rungawarta.id Jika Anda merasa dunia dalam beberapa tahun terakhir terasa “tidak baik-baik saja”, Anda tidak sendirian. Namun, memasuki pertengahan 2026, para pakar mulai menyematkan label yang lebih serius untuk kekacauan ini: Polycrisis.

Ini bukan sekadar satu atau dua masalah yang terjadi bersamaan. Polycrisis adalah sebuah situasi di mana berbagai krisis—mulai dari geopolitik, ekonomi, hingga perubahan iklim—saling bertabrakan dan menciptakan efek domino yang sulit dikendalikan. Singkatnya, satu masalah memperburuk masalah lainnya, menciptakan lingkaran setan global.

Peta Polycrisis Dunia

Ketika Krisis Tak Lagi Antre
Dahulu, dunia mungkin bisa fokus menyelesaikan krisis ekonomi sebelum beralih ke isu lingkungan. Namun di era polycrisis, masalah tidak lagi datang mengantre.

Di tahun 2026, kita melihat bagaimana ketegangan geoekonomi antara kekuatan besar (Barat dan Timur) mengganggu rantai pasok teknologi tinggi. Gangguan ini menyebabkan inflasi yang tak kunjung reda. Di saat yang sama, cuaca ekstrem akibat perubahan iklim menghantam lumbung pangan dunia, membuat harga beras dan gandum melonjak drastis.

Upaya pemerintah untuk meredam inflasi dengan menaikkan suku bunga justru membuat pendanaan untuk proyek energi hijau terhambat. Inilah wajah polycrisis: solusi untuk satu masalah justru menjadi bahan bakar bagi masalah lainnya.

Suara Pakar: “Dunia Sedang Menguji Nyali”
Menanggapi fenomena ini, pengamat ekonomi internasional dari Strategic Risk Institute, Wael Mansour, memberikan peringatan keras. Ia menyebut bahwa ketidakpastian kini menjadi satu-satunya kepastian.

“Kita tidak lagi menghadapi badai yang lewat, melainkan iklim yang berubah secara permanen. Polycrisis memaksa negara-negara untuk memilih: bekerja sama atau bangkrut sendiri-sendiri,” ujar Mansour dalam wawancara eksklusif.

Senada dengan itu, sejarawan ekonomi Adam Tooze, sosok yang mempopulerkan istilah ini, menyoroti hilangnya kepercayaan antar-negara. Menurutnya, masalah teknis seperti utang atau perubahan iklim bisa diselesaikan jika ada kemauan politik. Namun, di tengah polarisasi global yang tajam, kerja sama menjadi barang mewah yang langka.

AI dan Misinformasi: Bensin di Tengah Api
Yang membedakan polycrisis 2026 dengan krisis-krisis di masa lalu adalah keterlibatan Kecerdasan Buatan (AI). Di tengah kesulitan ekonomi, masyarakat dunia kini dibombardir oleh misinformasi yang dihasilkan AI secara masif. Hal ini memicu polarisasi tajam dan ketidakpercayaan pada pemerintah, membuat kebijakan penanganan krisis seringkali ditolak oleh publik sebelum sempat dieksekusi.

Survival Mode: Apa yang Harus Dilakukan?
Bagi masyarakat awam, istilah polycrisis mungkin terdengar sangat teoritis. Namun dampaknya nyata di dompet dan meja makan kita. Para ahli menyarankan agar negara-negara mulai memperkuat ketahanan domestik, mulai dari kedaulatan pangan hingga kemandirian energi, tanpa harus menutup diri dari dunia luar.

Era polycrisis adalah pengingat bahwa di dunia yang sangat terkoneksi ini, tidak ada satu pun negara yang benar-benar bisa selamat jika tetangganya tenggelam.

Redaksi Ruangwarta.id

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *